Pada
tanggal 14 Nopember yang akan datang genaplah 14 tahun lamanya s.p.y.m.m Adji Mohamad
Parikesit, Sultan kerajaan Kutai Kartanegara, Officier der Orde van Oranje Nassau, diatas
tahta kerajaan. Di ibu negeri Kutai Kartanegara telah didirikan sebuah komisi yang
maksudnya memperingati hari tersebut. Dari komisi itu kami terima rencana tentang yang
mulia Sultan Kutai serta tentang kemajuan kerajaan Kutai dalam waktu yang akhir ini. Dari
rencana itu kami ambil beberapa kutipan seperlunya.

Y.m.m. Adji Mohamad Parikesit, Sultan
Kerajaan Kutai Kartanegara |
|
Sejarah s.p.y.m.m. Adji
Mohamad Parikesit
Seri paduka yang maha mulia itu putra almarhum y.m. Adji Mohamad Alimoeddin,
Sultan kerajaan Kutai yang mulai memerintah dalam tahun 1900. Beliau lahir pada 5
Jumadil'akhir 1313 bersama dengan tahun Masehi 1896.
Dari kecil beliau dididik oleh nininda beliau almarhum y.m.m. Adji Mohamad
Soelaiman, Sultan Kutai. Beliau masuk sekolah Belanda di Samarinda tahun 1905. Tahun 1909
beliau mendapat gelar Adji Endje Renik. Tahun itu jugalah beliau masuk sekolah Instituut
Bos di Betawi. Tahun 1910 wafatlah ayahanda beliau, tetapi oleh karena umur beliau ketika
itu belum sampai, maka Pemerintahan Kutai terserah kepada yang mulia Pangeran Mangku
Negoro.
Tahun 1911 beliau menempuh ujian P.H.S. Dua Tahun sesudah itu beliau pindah
ke sekolah Osvia di Serang. Pada tahun 1917 beliau kembali ke Kutai, sebab y.m. Pangeran
Mangku Negoro hendak mendidik beliau untuk memegang pemerintahan dan untuk mengenali adat
lembaga negeri.
Tahun 1918 beliau diberi gelar Pangeran Adipati Praboe Anoem Soeria Adi
Ningrat.
Tanggal 14 Nopember 1920 beliau dinobatkan menjadi raja Kutai Kartanegara.
Untuk melanjutkan pengetahuan dan meluaskan pemandangan bertolaklah beliau dalam tahun
1928 dengan permaisuri beliau ke negeri Belanda. Ketika itulah kepada beliau dihadiahkan
derajat Officier der Orde van Oranje Nassau.
Pemerintahan Kutai
Y.m.m. Sultan Adji Mohamad Parikesit dibantu oleh tiga orang menteri yang
memegang Pemerintahan negeri. Adapun seluruh daerah kerajaan Kutai itu terbagi atas tiga onderafdeling,
yaitu Kutai Barat, Kutai Timur dan Balikpapan. Ibu negeri yang pertama ialah Tenggarong,
yang kedua Samarinda dan yang ketiga Balikpapan. Ketiga onderafdeling itusama
sekali terbagi pula atas 17 buah district. Menurut cacah jiwa tahun 1934 banyaknya
penduduk kerajaan Kutai 106.559 jiwa, kecuali orang yang bekerja pada Maatschappij.
Selama Sultan Kutai yang sekarang memerintah, banyak benar berubah susunan
Pemerintahan, sehingga sekarang ini tiada banyak lagi bedanya dengan susunan Pemerintahan
Daerah Goebernemen.
Dalam tahun 1931 telah diadakan sebuah persidangan yang bernama Hoofdenvergadering.
Sekalian para kepala onderafdeling, district dan onderdistrict
yang diundang untuk menghadiri rapat itu akan membicarakan soal-soal yang penting. Yang
memimpin rapat itu y.m.m. Sultan Kutai dengan Asisten-Residen. Rapat itu diadakan
4 bulan sekali. Untuk mengadakan rapat itu telah didirikan sebuah gedung yang besar dengan
perabot yang modern. Disana pulalah y.m. Sultan bekerja.
Mulai tahun 1926 diadakan dua macam pengadilan: Kerapatan Besar dan
Kerapatan Kecil. Kerapatan Besar terdapat di Tenggarong dan Kerapatan Kecil ada di
tiap-tiap district dan onderdistrict.
Agama Islam
Kira-kira 84.000 rakyat Kutai memeluk agama Islam. Dahulu segala urusan yang
berhubungan dengan agama Islam langsung kepada Sultan, tetapi sejak tahun 1924 telah
dibangunkan sebuah badan yang bernama Mahkamah Agama Islam Kerajaan Kutai, dipimpin oleh
Alhadji Amir Hasannoeddin Seri Pangeran Sosro Negoro, dibantu oleh juru tulis dan
hoofd-penghulu, ulama-ulama dan sebagainya. Selain daripada mengurus segala sesuatu yang
berhubungan dengan agama, badan itu memberi nasihat kepada Sultan tentang maksud pendirian
perhimpunan, sekolah agama, mesjid dan lain-lain. Segala mesjid di seluruh Kutai,
khotbahnya harus dibenarkan dahulu oleh Mahkamah itu dan mesti memuji Sultan Kutai dengan
keturunannya.
Yang penting selama Pemerintahan y.m.m. Sultan Adji Mohamad Parikesit ialah
pendirian mesjid Balikpapan atas pimpiman Sajid Gasim dibantu oleh M. Tewet gelar Mas
Djaja Prawira yang sekarang menjadi districtshoofd ter beschikking pada kantor y.m.m.
Sultan Kutai. Mesjid Tenggarong yang termasyur di seluruh Kalimantan diperbaharui. Besar
mesjid itu 950 m2 dan ongkos pembaharuan itu banyaknya f 30.000.-.
Pendidikan
Tentang pendidikan pun kelihatan Pemerintahan y.m.m. Sultan Parikesit
meninggalkan bekas. HIS sekarang ada di Tenggarong. Di Balikpapan, Samarinda dan Louise
(B.P.M.) ada Europeesche Lagere School. Selain daripada itu terdapat juga sekolah kelas II
dan 43 buah sekolah desa. Pemuda-pemuda Kutai sekarang ini telah banyak meneruskan
pelajarannya pada Mulo, A.M.S., H.B.S., Cultuurschool dan Osvia diluar Borneo.
Kesehatan
Soal kesehatan rakyat mendapat minat sepenuh-penuhnya. Dalam tahun 1918
hanya ada sebuah rumah sakit kerajaan Kutai, yaitu di Tenggarong. Rumah sakit yang sebuah
itu pun kurang terpelihara, oleh karena sulit untuk mencari dokternya, sebab dokter yang
bekerja disana gajinya tidak dihitung dalam jabatan Pemerintah. Hal itu sekarang telah
berubah dan selain daripada itu telah didirikan pula 2 buah rumah sakit baru di Balikpapan
dan Samarinda, sedangkan rumah sakit di Tenggarong diperbaiki dan diberinama "A.M.
Parikesit Hospitaal". Untuk ketiga-tiganya itu dikeluarkan ongkos lebih dari 150.000
rupiah. Di Long Iram ditempatkan dokter untuk daerah hulu Mahakam. Bangsa Dayak pun
rupanya sekarang telah sadar akan baiknya pengobatan cara barat, ialah oleh karena tiada
putus-putusnya didaya upayakan supaya mereka mengerti akan hal itu. Penyakit cacar telah
dapat ditindis. Hampir di tiap district sekarang ini ditempati seorang menteri dan
diadakan sebuah poliklinik untuk menjaga kesehatan anak negeri.
<From: Pandji Postaka, Vol. III 1934, p.1659> |