Sebagian besar
penduduk Kutai terutama yang yang berdiam di daerah pantai dan tepian sungai memeluk agama
Islam. Sebagian kecil terutama penduduk yang tinggal di pedalaman masih menganut
kepercayaan animisme dan sebagian lagi memeluk agama Kristen dan Katholik.
Penduduk asli di pedalaman dahulunya
hidup berpindah-pindah (nomaden), hal ini disebabkan karena mata pencaharian utama mereka
adalah berladang dengan berpindah-pindah serta berburu. Sedangkan penduduk yang tinggal di
daerah pantai dan tepi sungai, selain hidup dengan bercocok tanam secara menetap juga ada
yang hidup sebagai nelayan, pedagang dan pegawai/karyawan di pemerintahan maupun swasta.
Secara umum dapat dikatakan bahwa
masyarakat Kutai memiliki sifat yang ramah tamah, jujur dan memiliki semangat
gotong-royong yang tinggi. Tamu atau pendatang dari luar sangat dihormati. Masyarakatnya
juga sangat religius dan memiliki rasa toleransi antar umat beragama yang tinggi.
|
|
|
|
 |
B
a h a s a |
 |
|
|
|
|
|
|
Masyarakat Kutai
yang terdiri dari banyak suku dan sub suku memiliki bahasa yang beragam. Beberapa bahasa
sub suku yang sudah tidak dipergunakan lagi atau sudah punah adalah bahasa Umaa Wak, Umaa
Palaa, Umaa Luhaat, Umaa Palog, Baang Kelo, dan Umaa Sam, bahasa-bahasa tersebut dulunya
lazim digunakan oleh masyarakat Dayak di hulu maupun hilir Mahakam.
Sekarang bahasa Indonesia sebagai
bahasa nasional telah dikenal hampir di seluruh pelosok Kutai dan dipergunakan sebagai
bahasa dalam acara-acara resmi serta untuk berkomunikasi dengan orang luar daerah.
Sedangkan bahasa suku hanya dipergunakan untuk berkomunikasi antar anggota suku sendiri.
>> Sekilas Bahasa Kutai
|
|