
Ketopong (mahkota) Sultan Kutai Kartanegara |
|
|
Ketopong
Sultan Kutai
Ketopong atau mahkota Sultan Kutai ini terbuat dari emas dengan berat hampir
2 kg. Saat ini, Ketopong Sultan Kutai disimpan di Museum Nasional Jakarta.
>> Detail
|
|

Pedang Sultan Kutai Kartanegara |
|
|
Pedang
Sultan Kutai
Pedang Kerajaan Kutai ini terbuat dari emas padat.
Pada gagang pedang terukir seekor harimau yang sedang siap menerkam, sementara pada ujung
sarung pedang dihiasi dengan seekor buaya. Pedang Sultan Kutai ini dapat dilihat di Museum
Nasional, Jakarta. |
|
Kalung
Ciwa
Kalung yang terbuat dari emas ini diketemukan oleh penduduk di sekitar Danau Lipan,
Kecamatan Muara Kaman pada masa pemerintahan Sultan Aji Muhammad Sulaiman (1850-1899).
Oleh penduduk kalung ini diserahkan kepada Sultan, yang kemudian dijadikan perhiasan
kerajaan dan digunakan Sultan pada waktu diadakan pesta adat Erau dalam rangka ulang tahun
penobatan Sultan sebagai Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Kalung Uncal |
|
|
Kalung Uncal
Kalung Uncal yang merupakan atribut dari Kerajaan Kutai Martadipura (Mulawarman)
ini digunakan oleh Sultan Kutai Kartanegara setelah Kerajaan Kutai Martadipura berhasil
ditaklukkan dan dipersatukan dengan Kerajaan Kutai Kartanegara. Terbuat dari emas 18 karat
dengan berat 170 gram. Kalung ini dihiasi dengan relief cerita Ramayana.
Menurut sejarah, kalung Uncal tersebut kemungkinan berasal dari India. Dalam bahasa
India kalung ini disebut Unchele dan di dunia ini hanya terdapat 2 buah atau satu pasang,
yakni sebuah untuk pria dan sebuahnya lagi untuk wanita.
Kalung Uncal yang saat ini ada di India hanya sebuah saja. Menurut keterangan salah
seorang duta India yang berkunjung ke Tenggarong pada tahun 1954, kalung Uncal yang ada di
Kutai ini sama bentuk, rupa dan ukurannya dengan kalung Unchele yang ada di India.
Sehingga, ada kemungkinan bahwa Raja Mulawarman Nala Dewa merupakan salah seorang
keturunan dari Raja-Raja India di masa silam dan membawa kalung Uncal tersebut ke daerah
Kutai ini.
Kura-Kura Mas
Menurut riwayat, datanglah ke pusat Kerajaan Mulawarman beberapa rombongan perahu
dari negeri Cina yang dipimpin oleh seorang Pangeran yang ingin meminang salah seorang
Putri Raja yang bernama Aji Bidara Putih. Setelah lamaran diterima, sang Pangeran
mengantarkan barang-barang pertanda kesungguhannya untuk memperistri sang putri berupa
perhiasan dari emas dan intan, termasuk diantaranya adalah Kura-Kura Mas tersebut.
Tali Juwita
Tali juwita adalah simbul dari sungai Mahakam yang mempunyai 7 buah muara sungai
dan 3 buah anak sungai (sungai Kelinjau, Belayan dan Kedang Pahu). Tali Juwita ini terbuat
dari benang yang banyaknya 3x7 helai, kemudian dikuningi dengan kunyit untuk dipakai dalam
upacara adat Bepelas.
Keris Bukit Kang
Keris ini adalah tusuk konde dari Aji Putri Karang Melenu, permaisuri
Raja Kutai Kartanegara yang pertama yakni Aji Batara Agung Dewa Sakti. Menurut legenda
Kutai, bayi perempuan yang kemudian diberi nama Aji Putri Karang Melenu ini ditemukan
dalam sebuah gong bersama-sama dengan Keris Bukit Kang dan sebuah telur ayam. Gong ini
terletak pada sebuah balai dari bambu kuning. Balai tersebut terletak diatas tanduk seekor
binatang aneh yang disebut Lembu Swana yang muncul di perairan Kutai Lama.
Kelambu Kuning
Berbagai benda yang menurut kepercayaan mengandung magis ditempatkan dalam kelambu
kuning, yakni:
a. Kelengkang Besi
Pada suatu hari ketika hujan panas, petinggi yang tinggal di sungai Bengkalang
(Kecamatan Long Iram) yang bernama Sangkareak mendengar suara tangisan bayi. Setelah
dicari akhirnya ditemukannya seorang bayi berada dalam suatu wadah yang disebut kelengkang
besi.
b. Tajau (Guci/Molo)
Tajau atau tempayan ini dipergunakan untuk mengambil air ketika hendak memandikan
Aji Batara Agung Dewa Sakti untuk pertama kalinya.
c. Gong Raden Galuh
Tempat Aji Putri Karang Melenu bersama Keris Bukit Kang diketemukan. Gong besar
ini disebut juga Gong Maharaja Pati.
d. Gong Bende (Canang Ponograh)
Gong kecil ini dipukul bilamana ada sesuatu yang akan diumumkan kepada
khalayak.
e. Arca Singa Noleh
Konon, arca Singa Noleh awal mulanya adalah seekor binatang hidup yang sedang
memakan beras lempukut yang baru ditumbuk oleh seorang wanita. Wanita tersebut marah dan
binatang tersebut jatuh, terus menjadi batu bercampur porselein seperti keadaannya
sekarang.
f. Keliau Aji Siti Berawan
Keliau atau perisai ini adalah yang selalu dipakai oleh Aji Siti Berawan, keluarga
dari dari Sultan Kutai Kartanegara. Aji Siti Berawan disebut pahlawan wanita karena selalu
mempertahankan kerajaan dari serangan musuh. Mandau yang dipakainya dinamakan Mandau
Piatu.
g. Sangkoh Piatu
Sangkoh (lembing) ini dipakai pada waktu Erau dan dikaitkan pada tali Juwita dan
kain Cinde.
h. Sangkoh Buntut Yupa
Lembing ini penjelmaan dari seekor ular yang diketemukan di ujung pulau Yupa
oleh seorang penduduk kampung sekitar pulau tersebut.

Singgasana Sultan Kutai Kartanegara |
|
Singgasana Sultan
Setinggil / Singgasana yang dipakai Sultan Aji Muhammad Sulaiman maupun yang
dipakai Sultan Aji Muhammad Parikesit, berikut payung, umbul-umbul, dan geta
(peraduan pengantin Kutai Keraton).
Meriam Sapu Jagat dan
Meriam Gentar Bumi
Kedua meriam yang dianggap memiliki kekuatan daya sakti ini digunakan Aji Pangeran
Sinum Panji Mendapa untuk menundukkan Kerajaan Kutai Martadipura di Muara Kaman.
Meriam Aji Entong
Meriam buatan VOC ini awalnya ditempatkan di daerah muara sungai Mahakam, tepatnya
di Terantang (Kecamatan Anggana), untuk berjaga-jaga dan menghadapi musuh yang datang
melalui selat Makassar.
Meriam Sri Gunung
Meriam Sri Gunung inilah yang dipakai Awang Long gelar Pangeran Senopati untuk
menembak armada kapal Inggris dan Belanda yang menyerang Tenggarong pada tahun 1844.
Tombak Kerajaan Majapahit
Tombak-tombak tua dari Kerajaan Majapahit yang tersimpan di Museum Mulawarman
membuktikan adanya hubungan sejarah antara Kerajaan Kutai Kartanegara dengan Kerajaan
Majapahit.
Keramik Kuno Tiongkok
Ratusan koleksi keramik kuno dari berbagai dinasti di Cina yang tersimpan di ruang
bawah tanah Museum Mulawarman membuktikan telah adanya perdagangan yang ramai antara
daerah Kutai dengan daratan Cina di masa lampau.
Gamelan Gajah Prawoto
Seperangkat gamelan yang terdapat di Museum Mulawarman berasal dari pulau Jawa,
begitu pula topeng-topeng, beberapa keris, pangkon, barang-barang perak maupun kuningan,
serta wayang kulit membuktikan adanya hubungan yang erat antara Kerajaan Kutai Kartanegara
dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa semenjak jayanya Majapahit. |