Pada suatu malam ketika mereka sedang
tertidur dengan nyenyaknya, terdengar suara diluar rumah yang begitu gegap gempita hingga
menyentakkan mereka dari tidur di peraduan. Mereka pun bangkit membuka pintu untuk melihat
apa gerangan yang terjadi diluar rumah.
Nampaklah oleh mereka sebuah batu besar yang melayang dari udara
menghempas ke tanah. Suasana malam yang tadinya gelap gulita kini menjadi terang benderang
seakan-akan bulan purnama sedang memancar.
Terkejut melihat batu dan alam yang terang benderang itu, Petinggi
beserta isterinya segera masuk kembali kedalam rumah serta menguncinya dari dalam. Dari
dalam rumah mereka mendengar suara yang menyerunya.
"Sambut mati babu, tiada sambut mati mama!"
Sampai tiga kali suara ini didengar oleh Petinggi Jaitan Layar dan akhirnya dengan rasa
cemas dijawabnya juga, "Ulur mati lumus, tiada diulur mati lumus!"
"Sambut mati babu, tiada disambut mati mama." kembali suara itu terdengar.
"Ulur mati lumus, tiada diulur mati lumus.'' jawab si Petinggi.
Dan terdengarlah gelak ketawa dari luar rumah sambil berkata, "Barulah ada jawaban
dari tutur kita". Mereka yang diluar rumah itu agaknya sangat gembira sekali, karena
tutur katanya mendapatkan jawaban.
Petinggi Jaitan Layar pun tidak merasa takut lagi dan kemudian keluar
rumah bersama isterinya mendatangi batu itu yang ternyata adalah sebuah raga mas. Raga mas
itu lalu dibuka dan betapa terkejutnya Petinggi beserta isterinya tatkala melihat
didalamnya terdapat seorang bayi yang diselimuti dengan lampin berwama kuning. Tangannya
sebelah memegang sebuah telur ayam, sedang tangan lainnya memegang keris dari emas, keris
mana merupakan kalang kepalanya.
Pada saat itu menjelmalah tujuh orang Dewa yang telah menjatuhkan raga
mas itu. Mereka mendekati Petinggi Jaitan Layar dengan muka yang gembira memberi salam dan
salah seorang dari Dewa itu menyapa Petinggi, "Berterima kasihlah kepada Dewata,
karena doamu dikabulkan untuk mendapatkan anak. Meskipun tidak melalui rahim isterimu.
Bayi ini adalah turunan dewa-dewa dari khayangan, karena itu jangan sia-siakan untuk
memeliharanya, tapi jangan dipelihara seperti anak manusia biasa."
Dewa juga berpesan agar bayi keturunan dewa ini jangan diletakkan
sembarangan diatas tikar, akan tetapi selama empat puluh hari empat puluh malam bayi ini
harus dipangku berganti-ganti oleh kaum kerabat Petinggi.
"Bilamana engkau ingin memandikan anak ini, maka janganlah dengan air biasa, akan
tetapi dengan air yang diberi bunga wangi."
"Dan bilamana anakmu sudah besar, janganlah ia menginjak tanah,
setelah diadakan erau (pesta), dimana pada waktu itu kaki anakmu ini harus diinjakkan pada
kepala manusia yang masih hidup dan pada kepala manusia yang sudah mati. Selain itu kaki
anakmu ini diinjakkan pula pada kepala kerbau hidup dan kepala kerbau mati."
"Demikian pula bilamana anak ini untuk pertama kalinya ingin mandi
ke tepian, maka hendaklah engkau adakan terlebih dahulu upacara erau (pesta) sebagaimana
upacara pada tijak tanah."
Setelah pesan-pesan tersebut disampaikan oleh salah seorang Dewa itu
maka ketujuh Dewa itu naik kembali ke langit. Petinggi dan isterinya dengan penuh rasa
bahagia membawa bayi itu masuk ke rumahnya. Bayi ini bercahaya laksana bulan purnama,
wajahnya indah tiada bandingnya, siapa memandang akan bangkit kasih sayang terhadapnya.
Akan tetapi isteri Petinggi susah hatinya, karena payudaranya tidak
dapat meneteskan air susu. Apa yang bisa diharapkan lagi dari seorang perempuan yang sudah
tua untuk bisa menyusui anaknya?
Akhimya Petinggi Jaitan Layar membakar dupa dan setanggi serta
menghambur beras kuning, sambil mereka memanjatkan do'a kepada para Dewa, agar memberikan
kurnia kepada isteri Petinggi supaya teteknya mengandung air susu yang harum baunya.
Setelah selesai berdo'a, terdengarlah suara dari langit, "Hai Nyai Jaitan Layar,
usap-usaplah tetekmu dengan tangan berulang-ulang sampai terpancar air susu darinya."
Mendengar perintah ini, isteri Petinggi Jaitan Layar segera
mengusap-usap teteknya sebelah kanan dan pada waktu sampai tiga kali dia berbuat demikian,
tiba-tiba mencuratlah dengan derasnya air susu dengan baunya yang sangat harum seperti bau
ambar dan kesturi. Maka bayi itupun mulai dapat diberikan air susu dari tetek isteri
Petinggi Jaitan Layar itu sendiri. Kedua laki isteri itu sangat bahagia melihat bagaimana
anaknya keturunan dari Dewa, mulai dapat menyusu.
Sesudah tiga hari tiga malam, tanggallah tali pusat dari bayi itu. Maka
semua penduduk Jaitan Layar pun bergembira. Meriam "Sapu Jagat" ditembakkan
sebanyak tujuh kali. Selama empat puluh hari empat puluh malam bayi itu dipangku silih
berganti dan dipelihara dengan hati-hati dan secermat-cermatnya. Selama itu juga telor
yang sudah menetas menjadi seekor ayam jago makin besar dengan suara kokoknya yang
lantang.
Sesuai dengan petunjuk para Dewata, maka anak tersebut dinamakan Aji
Batara Agung Dewa Sakti. Pada waktu Batara Agung berumur lima tahun maka sukarlah dia
ditahan untuk bermain-main didalam rumah saja. Ingin dia bermain-main di halaman, di alam
bebas dimana dia dapat berlari-larian, berkejar-kejaran dan mandi-mandi di tepian.
Maka Petinggi Jaitan Layarpun mempersiapkan upacara tijak tanah
(menginjak tanah) dan upacara erau mengantarkan sang anak mandi ke tepian untuk pertama
kalinya. Empat puluh hari empat puluh malam diadakan pesta, dimana disediakan makanan dan
minuman untuk penduduk. Gamelan Gajah Perwata ditabuh siang malam, membuat suasana
bertambah meriah. Berbagai ragam permainan ketangkasan dipertunjukkan silih berganti.
Sesudah erau dilaksanakan empat puluh hari empat puluh malam, maka
bermacam binatang baik betina, maupun jantan disembelih. Disamping itu juga Petinggi
Jaitan Layar tidak melupakan pesan dari Dewa yaitu agar membunuh beberapa orang, baik
lelaki maupun perempuan untuk diinjak kepalanya oleh Batara Agung pada upacara "tijak
tanah".
Kepala-kepala binatang dan manusia itu diselimuti dengan kain kuning.
Aji Batara Agung Dewa Sakti diarak dan kemudian kakinya dipijakkan kepada kepala-kepala
binatang dan manusia itu.
Kemudian Aji Batara Agung diselimuti dengan kain kuning, lalu diarak ke
tepian sungai. Ditepi sungai Aji Batara Agung dimandikan, dimana kakinya dipijakkan
berturut-turut pada besi dan batu. Semua penduduk Jaitan Layar kemudian turut mandi, baik
wanita maupun pria, baik orang tua maupun orang muda.
Setelah selesai upacara mandi, maka khalayak membawa kembali Aji Batara
Agung ke rumah orang tuanya, dimana dia diberi pakaian kebesaran. Kemudian dia dibawa ke
halaman kembali dengan dilindungi payung agung, diiringi dengan lagu gamelan Gajah Perwata
dan bunyi meriam Sapu Jagat.
Tiba-tiba guntur berbunyi dengan dahsyatnya menggoncangkan bumi dan
hujan panas pun turun merintik. Tetapi keadaaan demikian tidak berlangsung lama, karena
kemudian cahaya cerah kembali datang menimpa alam, awan di langit bergulung-gulung
seakan-akan memayungi penduduk yang sedang mengadakan upacara di bumi.
Penduduk Jaitan Layar kemudian membuka hamparan dan kasur agung, dimana
Aji Batara Agung Dewa Sakti disuruh berbaring. Upacara selanjutnya ialah gigi Aji Batara
Agung diasah kemudian disuruh makan sirih.
Sesudah upacara selesai, maka pesta pun dimulai dengan mengadakan makan
dan minum kepada penduduk, bermacam-macam permainan dipertunjukkan, lelaki perempuan
menari silih berganti. Juga tidak ketinggalan diadakan adu binatang. Keramaian ini berlaku
selama tujuh hari tujuh malam dengan tidak putus-putusnya.
Bilamana selesai keramaian ini, maka segala bekas balai-balai yang
digunakan untuk pesta ini, dibagi-bagikan oleh Petinggi Jaitan Layar kepada penduduk yang
melarat. Demikian juga semua hiasan-hiasan rumah oleh Nyai Jaitan Layar dibagi-bagikan
kepada rakyat.
Para undangan dari negeri-negeri dan dusun yang terdekat dengan
selesainya pesta ini, semua pamit kepada Petinggi dan kepada Aji Batara Agung Dewa Sakti.
Mereka semua memuji-muji Aji Batara Agung dengan kata-kata "Tiada siapapun yang dapat
membandingkannya, baik mengenai rupanya maupun mengenai wibawanya. Patutlah dia anak dari
batara Dewa-Dewa di khayangan."
Selesai pesta ini, maka kehidupan di negeri Jahitan Layar berjalan
seperti biasa kembali, masing2 penduduk melaksanakan pekerjaan mencari nafkah sehari-hari
dengan aman dan sentosa. Sementara itu Aji Batara Agung Dewa Sakti makin hari makin
dewasa, makin gagah, tampan, berwibawa dan kelak akan menjadi Raja pertama dari kerajaan
Kutai Kartanegara.***
Mitologi Kutai Selanjutnya:
Legenda Naga Erau dan Puteri Karang Melenu