Halaman 1 | Halaman 2

Lukisan pendopo Sultan Kutai pada masa
pemerintahan Sultan A.M. Sulaiman di tahun 1879 oleh Carl Bock
( Buku: The Head-Hunters of
Borneo, 1881)
Keraton peninggalan Sultan A.M. Sulaiman
dilihat dari arah keraton beton (Museum Mulawarman)
( Koleksi: Keluarga A.R. Padmo )
|
|
|
Kata
Kraton/Keraton yang berasal dari kata 'keratuan' memiliki arti sebagai istana atau tempat
kediaman dari seorang ratu (raja), istilah istana ini juga biasa disebut dengan Kedaton
yang berasal dari kata 'kedatuan'. Jika dilihat dari perjalanan panjang sejarah Kerajaan
Kutai Kartanegara sejak abad ke-13 yang telah mengalami tiga kali perpindahan ibukota,
tentunya istana Kerajaan Kutai Kartanegara pun telah mengalami beberapa kali perpindahan
atau perubahan. Namun sayang, tidak ada dokumentasi sejarah mengenai rupa bangunan istana
raja-raja Kutai di masa lalu baik yang di Kutai Lama, ibukota pertama Kerajaan Kutai
Kartanegara maupun di Pemarangan, ibukota kerajaan yang kedua.
Dokumentasi bentuk
istana Sultan Kutai hanya ada pada masa pemerintahan Sultan A.M. Sulaiman yang kala itu
beribukota di Tenggarong, setelah para penjelajah Eropa melakukan ekspedisi ke pedalaman
Mahakam pada abad ke-18. Carl Bock, seorang penjelajah berkebangsaan Norwegia yang
melakukan ekspedisi Mahakam pada tahun 1879 sempat membuat ilustrasi pendopo istana Sultan
A.M. Sulaiman. Istana Sultan Kutai pada masa itu terbuat dari kayu ulin dengan bentuk yang
cukup sederhana.

Interior keraton Sultan A.M. Sulaiman
( Koleksi: Sultan H.A.M.
Salehuddin II )

Keraton Sultan Kutai pada masa Sultan
A.M. Alimuddin
( Koleksi: J.R.Wortmann,
Driebergen, The Netherlands ) |
|
|
Setelah Sultan
Sulaiman wafat pada tahun 1899, Kesultanan Kutai Kartanegara kemudian dipimpin oleh Sultan
A.M. Alimuddin (1899-1910). Sultan Alimuddin mendiami keraton baru yang terletak tak
jauh dari bekas keraton Sultan Sulaiman. Keraton Sultan Alimuddin ini terdiri dari
dua lantai dan juga terbuat dari kayu ulin (kayu besi). Keraton ini dibangun menghadap
sungai Mahakam. Hingga Sultan A.M. Parikesit naik tahta pada tahun 1920, keraton ini tetap
digunakan dalam menjalankan roda pemerintahan kerajaan.
>> Halaman Berikutnya |