Pelaksanaan
Erau
Pelaksanaan Erau yang terakhir menurut tata cara Kesultanan Kutai Kartanegara
dilaksanakan pada tahun 1965, ketika diadakan upacara pengangkatan Putra Mahkota
Kesultanan Kutai Kartanegara, Aji Pangeran Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat.
Sedangkan Erau sebagai upacara adat
Kutai dalam usaha pelestarian budaya dari Pemda Kabupaten Kutai baru diadakan pada tahun
1971 atas prakarsa Bupati Kutai saat itu, Drs.H. Achmad Dahlan. Upacara Erau dilaksanakan
2 tahun sekali dalam rangka peringatan ulang tahun kota Tenggarong yang berdiri sejak 29
September 1782.
Atas petunjuk Sultan Kutai
Kartanegara yang terakhir, Sultan A.M. Parikesit, maka Erau dapat dilaksanakan Pemda Kutai
dengan kewajiban untuk mengerjakan beberapa upacara adat tertentu, tidak boleh mengerjakan
upacara Tijak Kepala dan Pemberian Gelar, dan beberapa
kegiatan yang diperbolehkan seperti upacara adat lain dari suku Dayak, kesenian dan
olahraga/ketangkasan.
Erau Sebagai Pesta Budaya

Festival Erau diabadikan dalam penerbitan
prangko Republik Indonesia seri "Tahun Seni dan Budaya" pada tahun 1998 |
|
|
Kebijakan Pemerintah Kabupaten
Kutai untuk menjadikan Erau sebagai pesta budaya yakni dengan menetapkan waktu pelaksanaan
Erau secara tetap pada bulan September berkaitan dengan hari jadi kota Tenggarong, ibukota
Kabupaten Kutai dan Kesultanan Kutai Kartanegara.
Festival Erau yang kini telah masuk
dalam calendar of events pariwisata nasional, tidak lagi dikaitkan dengan seni
budaya Keraton Kutai Kartanegara tetapi lebih bervariasi dengan berbagai penampilan ragam
seni dan budaya yang ada serta hidup dan berkembang di seluruh wilayah Kabupaten Kutai.
(KutaiKartanegara.com)
Next Link:
>> Mata Acara Pokok
>> Mata Acara Penunjang |