Kabupaten Kesultanan Wisata Seni Budaya Festival Erau Agenda Dokumen
       
Arsip Berita Gallery Download Direktori Data Forum Buku Tamu
RSUD A.M. Parikesit
mySamarinda.com
    Agenda/Events
 
 
 
 
Cerpen: Akan Ku Tunggu | Oleh: Rhony Samlan
Cerita Pendek
Akan Ku Tunggu
Oleh: Rhony Samlan
Beberapa menit lagi kapal fery akan segera berangkat. Akan tetapi mataku masih saja kesana kemari untuk mencari sesuatu. Atau lebih tepatnya seseorang. Biasanya setiap saat aku selalu berjumpa dengannya di kapal ini atau kapal satunya. Mengantri atau sudah berada di kapal. Aku berharap, ketika menemukannya dan mulai mencuri-curi pandang padanya, aku akan merasa begitu tenang dan aneh seketika seperti biasanya.

Sebagai mahasiswi yang berada jauh dari seberang Samarinda, aku bisa merasakan betapa letihnya harus pulang pergi menuntut ilmu dengan menempuh jarak yang tidak main-main. Satu jam bisa dibilang paling cepat. Bukannya aku tidak mau kuliah di universitas yang ada di Tenggarong, tapi keinginanku untuk keluar dari zona nyamanku merupakan sebuah tantangan bagiku. Itu kulakukan karena kesungguhan yang orang lain tak bisa rasakan. Dan sebuah pilihan yang kuyakini akan merubah jalan hidupku dan kehidupan layak keluargaku.

Dua kapal sumbangan dari pemerintah yang tanpa letih bergantian membawa penumpang ini adalah solusi untuk menghemat biaya karena gratis. Itu salah satu cara menghubungkan kami melintasi sungai Mahakam untuk mencapai Samarinda ataupun sebaliknya. Dengan demikian aku bisa sampai kampus setiap pagi begitu pula dirinya. Satu-satunya jembatan yang menghubungkan Tenggarong dan Samarinda sudah ambruk beberapa tahun yang lalu.

Namanya adalah Saputra. Dia harus menyebutkan namanya dua kali karena pada saat pertama kali ia menyebutkan namanya suara klakson dari kapal berbunyi. Seorang pemuda tinggi, berkulit sawo matang, dengan hidung yang besar adalah mahasiswa yang baru masuk tahun ini sama sepertiku. Dan ia juga pulang pergi. Saputra adalah mahasiswa dari jurusan Fisika. Itu kuketahui semua saat aku tak tahan untuk menyapanya pada saat akhirnya dia memarkir motor matic-nya di sebelahku ketika kami satu kapal fery bersama hendak pulang kuliah.

"Kuliah di Samarinda jua kah?" Aku tidak yakin bahwa dia asli Kutai meskipun memiliki kulit yang serupa, tapi orang selain Kutai pun pasti mengerti dengan logat yang aku ucapkan.

"Pulang pergi jua? Aku sering melihatmu disini," tanyaku penasaran saat giliran mobil masuk ke dalam kapal.

"Iya..." katanya santai, menatapku sekali dan kemudian berpaling lagi.

Hal pertama yang kurasakan adalah betapa tidak ramahnya dia. Mungkin karena wajahku yang tidak menarik yang membuatnya seperti itu. Seperti yang sering dilakukan banyak pemuda setelah melihat wajahku. Namun segera mungkin kubuang jauh-jauh persepsi itu.

"Jurusan apa? Semester berapa?" tanyaku lagi.

Dan seperti di awal, jawabannya singkat dan padat. Mungkin aku yang salah, yang terlalu terobsesi dengan pertanyaan yang terlalu menginterogasi. Mungkin dia takut. Akhirnya kuputuskan agar tidak bertanya lagi padanya. Dia tidak cocok denganku.

Jika saja wajahnya sama sekali tidak mirip dengan sahabat baikku, Indra, yang menjadi salah satu orang dari puluhan orang yang telah tewas dalam insiden runtuhnya jembatan Kartanegara beberapa tahun lalu, hingga saat ini mayatnya belum juga ditemukan, aku bakalan tidak akan mau bersusah payah melakukan hal sok ramah dan terlalu berambisi seperti ini pada seseorang yang tak ku kenal.

Apalagi pada dasarnya aku adalah tipe cewek yang sangat introvert terhadap orang yang tidak ku kenal. Aku hanya mencoba untuk menahan diri agar tidak emosi seperti yang sering kulakukan pada kakakku Zulham jika dia tidak mendengarkan kata-kataku. Aku mencoba tenang saat dihadapkan pada situasi memalukan seperti ini, setenang yang pernah aku lakukan yaitu dengan cara menghindar. Apalagi seorang ibu berseragam PNS yang memarkir motornya menyimpang tepat di depan Saputra memperhatikan kami dan aku bisa menebak jelas apa isi dari otaknya.

Hal selanjutnya terjadi secara spontan dan tidak terduga. Saat aku hendak beranjak menuju kabin atas untuk istirahat karena sinar matahari sore ini terlalu menyengat. Saputra bereaksi aneh seakan-akan tidak ingin ketinggalan sesuatu. Ia melepaskan sarung tangan kanan yang digunakannya.

"Oh ya, perkenalkan..." katanya seraya mengulurkan tangan ke arahku.

Ada kata sesudahnya yang tak bisa ku dengar karena diucapkan saat suara klakson dari kapal fery dibunyikan, yang menandakan kapal akan segera menyeberang. Kurasa ia menyebutkan namanya. Aku terdiam sejenak dan memperhatikannya. Aku memikirkan kemungkian adanya bahaya atau ancaman apapun. Namun aku akhirnya menerima jabatan tangannya.

"Siapa?" kataku.

"Saputra leh..." balasnya dengan nada seperti kesal.

Aku langsung merasakan sensasi kesenangan luar biasa dalam diriku. Orang yang beberapa bulan terakhir ini mencuri perhatianku akhirnya bicara padaku, simpel namun penuh makna. Sebuah nama yang kurasa sangat kuperlukan diawal perkenalan kami tapi terhambat karena persepsiku sesaat.

"Aku ndak ke atas, di sini panas," kataku. "Umpat kah...?"

Aku tidak ragu sedikitpun menggunakan bahasa Kutai, tapi aku ragu dengan ajakanku. Demi alasan apa aku melakukan hal seperti itu? Hal tersebut tak pernah kulakukan sebelumnya dan akhirnya menjadi aneh seketika.

Awalnya aku berpikiran bahwa Saputra menolak karena tidak tertarik dengan tawaranku. Dia pasti akan menyesal harus beriringan dengan gadis sepertiku. Seperti yang dilakukan teman laki-lakiku. Namun kenyataannya berbeda, Saputra mengangguk dan melepaskan helmnya.

Aku berjalan didepannya dan ia hanya beberapa jarak di belakangku. Kami memerlukan usaha melewati para penumpang yang memenuhi kapal. Saat berada di atas, kami menemukan bangku kosong yang saling berhadapan dan kemudian duduk. Bangku tersebut terletak tepat di depan kapal yang disampingnya merupakan ruangan kemudi kapal. Tanpa dimulai dari manapun, akhirnya kami mengobrol seputar pendidikan kami berdua.

Aku akhirnya tahu bahwa Saputra yang ternyata asli orang jawa dan baru setengah tahun pindah ke Tenggarong. Percakapan itu sangat asyik dan bahkan tanpa terasa canggung.

Itulah hal yang bisa kuingat. Hal yang ingin kuulang, yang menjadi hari pertama dan terakhir pembicaraanku dengan Saputra.

Setiap kali aku mengantri kapal fery atau saat aku sudah berada di kapal untuk menyeberang, aku selalu was-was seakan menunggu sesuatu. Aku selalu berharap bahwa aku bisa melihat Saputra lagi, melihat dari kaca spionku yang duduk tenang di motor matic-nya atau bahkan dari kejauhan seperti yang sering kulakukan. Sekali saja. Tapi itu sangatlah mustahil bagiku dan kenyataan yang memang adanya seperti itu.

Tepatnya sebulan yang lalu saat musim hujan terparah yang bisa diingat semua orang. Hari itu Samarinda lumpuh total karena banjir. Aku sampai kampus dengan susah payah dan menemukan kenyataan bahwa hari perkuliahan libur karena dosen kami terjebak banjir dan hanya ada kurang dari 10 mahasiswa yang hadir.

Aku akhirnya memutuskan untuk kembali pulang karena tak ada alasan lain bagiku berada di kampus. Lagipula pakaianku sudah basah kuyup. Satu-satunya yang kering adalah buku yang kumasukan kedalam jok motorku. Dalam hati aku sangat bersyukur karena kotaku Tenggarong tidak pernah banjir seperti ini jika musim hujan tiba. Kecuali sungai Mahakam pasang yang terjadi beberapa tahun sekali.

Hujan masih mengguyur, namun tidak selebat sebelumnya. Aku kembali memacu motorku namun memerlukan waktu untuk bebas dari kemacetan. Untung saja, meskipun membeli bekas dan sudah lama, motor yang kugunakan tidak mogok.

Sampai di jalur perbatasan Samarinda-Tenggarong, aku mengurangi kecepatan motorku dan memutuskan untuk berhenti sejenak karena melihat kerumunan. Tebakanku benar bahwa ada insiden kecelakaan lalu lintas. Itu adalah hal yang biasa terjadi dan sering kutemui. Jalan yang sebagian rusak yang belum diperbaiki serta jalanan licin karena guyuran hujan yang bisa saja membuat orang celaka.

Adalah pengendara sepeda motor dengan sebuah mobil, yang mengakibatkan si pengendara motor kehilangan nyawanya di tempat kejadian. Yang paling mengerikan dari kecelakaan adalah kerusakan yang dialami dari kendaraan. Dan aku baru melihat kerusakan yang hebat. Motor tersebut hancur berkeping-keping nyaris tak berbentuk aslinya. Yang membuatku paling tercengang adalah saat mengetahui bahwa korbannya adalah pemuda yang sehari sebelumnya pernah mengobrol denganku. Saputra.

Aku tak bisa melakukan apa-apa, pihak kepolisian dan warga sekitar kejadian sudah berusaha semampu mereka hingga akhirnya mereka mengetahui identitas Saputra. Hal yang kulakukan hanya menunggu dan melihat dari kejauhan. Aku menatapi sesosok tak bernyawa yang ditutupi daun-daun pisang. Darah segar mengalir mengikuti aliran air hujan yang jatuh menghantam bumi.

Rasa tak percaya akhirnya menjalar ke dalam diriku. Aku baru mengenalnya sehari sebelumnya. Tapi aku merasa bahwa aku seakan mengenalnya bertahun-tahun lamanya. Rasa sedih dan haru akhirnya menusuk ulu hatiku. Aku bersuyur hujan membasahiku, wajahku, dan air mataku yang mengalir seperti air hujan yang mengalirkan darah-darah Saputra.

Tak jauh dari tempatku berdiri, aku menemukan sebuah benda yang luput dari penglihatan orang-orang. Mayat dan kendaraan yang rusak adalah hal yang menarik bagi mereka. Benda tersebut berbahan kulit berwarna kelabu yang disisinya terdapat resleting yang bisa dibuka dan ditutup.

Awalnya kukira itu adalah buku catatan kuliah, atau Al-Qur'an seperti yang dimiliki kakakku, namun aku berpikiran bahwa tidak mungkin seperti itu. Benda itu terlalu kecil dan tidak tebal. Namun hal yang mengejutkanku adalah sebuah tulisan bertinta hitam tebal yang ditulis dengan acak-acakan, seperti ditulis dengan tergesa-gesa. Meski begitu aku dapat membacanya dengan jelas. Tulisan tersebut berupa kode atau sesuatu yang membingungkan. Butuh waktu beberapa menit bagiku akhirnya menyadari bahwa tulisan itu merupakan nomor kendaraanku.

Penasaranku akhirnya membuatku mengambilnya. Sampai di rumah akhirnya aku membuka benda itu dengan hati-hati. Ternyata benda itu sebuah buku. Dan itu adalah buku harian Saputra.

Setelah mendapatkan buku itu, aku selalu menyempatkan untuk membacanya. Dari lembaran awal, isinya lebih banyak tentang pengalamannya yang menyenangkan ketika ia menjadi warga Kutai dan menetap di Tenggarong, namun juga ada penyesalan dan kekecewaan Saputra terhadap orangtuanya yang bercerai hingga akhirnya ia harus pindah ke Tenggarong mengikuti ibunya yang ia tuliskan begitu memilukan. Dan selebihnya menceritakan tentang dirinya yang berambisi, terobsesi dengan seseorang yang sama sekali dia tidak tahu orang itu siapa.

Matahari nampak malu-malu menampakkan dirinya dan kapal mulai berlayar. Aku tidak bisa berhenti menatap konstruksi jembatan yang sudah mulai dibangun. Tiang-tiang sudah terbentuk dengan kokoh dan akan terlihat megah. Mungkin hanya beberapa tahun lagi orang-orang bisa menggunakannya. Aku masih membuka lembaran-lembaran buku harian Saputra. Ingatanku kembali ke masa dimana aku sering melihatnya di kapal ini. Seorang pemuda yang sering kulihat menggunakan jaket merah menyala.

Pulang dari kampus, kugoreskan pena ini karena aku tak tahu lagi berbagi bahagia dengan siapa. Ini merupakan akhir Mei keberuntunganku, betapa tidak, aku selalu memperhatikannya dari jauh dan ia tidak menyadarinya. Tapi aku tahu dia, satu wilayah dan satu kampus denganku, dan kami kadang selalu bertemu saat hendak berangkat ataupun setelah pulang kuliah. Awalnya aku sangat frustasi jikalau dia tidak meresponku jika aku mulai bicara padanya. Tapi karena kesungguhan, tadi sore saat pulang kuliah, aku beranikan diri agar bisa memarkir motor jelekku di samping motornya. Belum sempat aku mulai pembicaraan, dia sudah menyapaku duluan.

Apakah aku senang? Tentu saja. Ternyata dia juga memperhatikanku seperti aku memperhatikannya. Itu ada hal yang tak akan pernah kulupakan. Tapi aku mencoba untuk tenang dan bersabar hingga akhirnya aku tahu namanya adalah Melan.


Aku tidak jatuh cinta bahkan tidak mempunyai rasa terhadapnya, tapi aku tidak tahu rasa ini apa namanya. Jujur, hatiku merasa begitu gundah dengan kecemasan luar biasa yang sebelumnya juga pernah kurasakan. Setiap saat aku selalu memikirkannya. Aku pikir rasa kehilangan ini bercampur menjadi satu dengan sakit. Sepertinya takkan pernah sirna hingga sebuah keajaiban tiba. Aku menutup mata dan bisa kurasakan air mata mengalir di pipiku. ***
Rhony Samlan, lahir di sebuah desa di Kecamatan Loa Kulu pada tanggal 30 Januari 1992. Anak ke-4 dari 8 bersaudara ini mulai terobsesi menulis sejak duduk di bangku SMA. Selain disibukkan menekuni pendidikannya di Universitas Mulawarman Samarinda jurusan Psikologi, ia juga menyempatkan untuk menulis cerpen di blog pribadinya.

Twitter : @rhonysamlan
Blog : http://rhonysamlan.blogspot.com
 
Pasang Iklan
Username  
Password  
             
Kabupaten
Kecamatan
Kesultanan
Festival Erau
Seni Budaya
Kesah Loco
Cerita Pendek
Wisata
Direktori
KutaiKartanegara.com