KutaiKartanegara.com

Find:  

Arsip berita

ARSIP BERITA KUTAIKARTANEGARA.com

 

Info "Odah Etam" Kutai Kartanegara

Petani Keramba Waspadai Air Bangar

Bu Aminah terpaksa harus segera menjual ikan-ikannya dengan harga lebih murah daripada mengalami kerugian yang lebih besar lagi
Photo: Agri

KutaiKartanegara.com 27/03/04 19:45 WITA
Matahari masih memancarkan sinarnya yang sangat terik siang itu. Bu Aminah, 30 tahun, melangkahkan kakinya melintasi balok titian menuju keramba ikan yang mengapung di sungai Mahakam. Dibukanya tutup salah satu keramba yang mereka miliki sejak 10 tahun lalu, kemudian dengan menggunakan jaring ikan ia menangkap 1-2 ekor ikan mas seukuran telapak tangan untuk dijual langsung di tepi jalan poros antara kecamatan Loa Kulu dan Loa Janan, desa Jembayan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Kondisi air sungai Mahakam yang sering pasang surut belakangan ini ditambah lagi semakin berkurangnya kadar oksigen air sungai tersebut telah membuat sebagian ikan yang mereka budidayakan menjadi mabuk dan mati. Hal ini memaksa para petani keramba untuk segera memanen ikan-ikan mereka sebelum mati sia-sia akibat fenomena alam yang biasa dinamakan air bangar tersebut.


Beberapa ekor ikan mas milik petani keramba di Jembayan yang mati sia-sia akibat pengaruh air bangar

Photo
: Agri

Dampak dari air bangar tersebut juga menyebabkan jatuhnya harga jual ikan di pasaran. "Kami terpaksa harus menjual ikan dengan harga lebih murah daripada kami merugi. Kemarin saja kira-kira hampir 4 kilogram ikan mas kami mati," ujar bu Aminah seraya menambahkan ia kini menjual ikan mas seharga Rp 10 ribu per kilogramnya.

Menurut Edy Hamzah yang merupakan ketua kelompok petani keramba Karya Baru II, sebenarnya keadaan sungai Mahakam saat ini masih belum terlalu parah karena masih mengalami pasang surut. "Kecuali jika air Mahakam sudah mulai surut dengan membawa air bangar dari hulu yang kadar asamnya tinggi, maka hal tersebut dapat membahayakan ikan-ikan kami. Walau demikian, kami tetap harus mewaspadainya," ujar pria asal Maluku ini.


Para anak petani keramba di Jembayan dengan bangga menunjukkan ikan mas yang mereka miliki
Photo: Agri

Diceritakannya pula bahwa serangan air bangar yang paling parah pernah mereka alami pada tahun 2002. Hanya dalam waktu 1 hari, seluruh ikan mas dan nila yang mereka budidayakan mati sia-sia sebelum sempat dipanen.

"Musibah tersebut telah kami sampaikan kepada Dinas Perikanan Kukar, namun tak ada tindak lanjutnya dalam bentuk bantuan bibit ikan seperti yang kami harapkan untuk meringankan penderitaan kami," kata Edy yang mengaku sudah bosan mengajukan proposal kepada Pemkab Kukar karena tak pernah direalisasikan.

Ditambahkan Edy bahwa saat ini terdapat lebih dari 300 keramba yang dimiliki 30 warga di lingkungannya. Usaha keramba tersebut telah mereka rintis sejak tahun 1994. "Awalnya hanya ada 4 orang termasuk saya yang mencoba usaha ini. Waktu itu kami mendapat bantuan 4 buah keramba dari Dinas Perikanan Kabupaten Kutai (sebelum pemekaran). Jumlah keramba kami waktu itu hanya 16 buah saja," kata Edy Hamzah yang saat ini memiliki 17 buah keramba.

Menurutnya, untuk pemasaran ikan mas dan nila yang mereka kembangkan, saat ini para petani yang tergabung dalam kelompok Karya Baru II tersebut menjual kepada 4 tengkulak yang ada di desa mereka.

Namun ia sangat berharap kepada Pemkab Kutai Kartanegara untuk mencarikan pasar yang potensial bagi mereka apakah itu untuk skala nasional maupun luar negeri. "Untuk ekspor sekalipun kami siap asalkan kami dibimbing dengan baik," demikian tandas Edy Hamzah. (win/zej)


Sejumlah keramba ikan mas dan ikan nila milik kelompok petani keramba Karya Baru II di desa Jembayan, Kecamatan Loa Kulu
Photo: Agri

Free E-mail from KutaiKartanegara.com

Login Name:

Password:

Belum Terdaftar?
Daftar Sekarang Juga!

Affiliate with oto.co.id

--- Depan | Tentang Kami | Pasang Iklan | Layanan | Statistik | Partner | Credit | Kontak ---

Best viewed with Microsoft Internet Explorer 5.0 or higher with 800x600 screen resolution.
Copyright 2001-2004 KutaiKartanegara.com - All Rights Reserved.