
Museum Mulawarman yang sering digunakan untuk kegiatan Erau telah mendorong peranannya
sebagai memorial museum
Photo: Agri |
|
|
KutaiKartanegara.com 26/02/04 01:01 WITA
Secara fungsional, Museum Mulawarman sebagai bekas Keraton
Sultan Kutai Kartanegara ing Martadipura sudah sepantasnya dimasukkan dalam kelembagaan
museum dengan peranan sebagai Memorial Museum. Hal ini dikarenakan telah banyaknya
kegiatan-kegiatan adat keraton yang dilakukan di Museum Mulawarman serta masih
digunakannya benda-benda peninggalan kerajaan yang tersimpan di Museum Mulawarman untuk
pelaksanaan upacara adat.
Demikian hal tersebut dilontarkan H Aji
Bambang Abdul Rachim SH, salah seorang anggota kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara yang
tampil sebagai pembicara pada Seminar Sehari Bedah Erau di Hotel Lesong Batu, kemarin
(25/02).

Benda-benda pusaka yang tersimpan di Museum
Mulawarman masih digunakan untuk beberapa upacara adat keraton Kutai Kartanegara
Photo: Agri |
|
|
"Secara sadar atau tidak, kita
telah membuat ancang-ancang kearah itu dan tanda-tandanya sudah terlihat antara lain
dengan adanya kebijaksanaan untuk menata kembali tata ruang Museum beberapa tahun lalu
yang disesuaikan dengan desain awal sebagai istana," kata HAB Abdul Rachim sembari
mencontohkan telah dikembalikannya singgasana ke tempat semula serta pengelompokan
benda-benda adat Kesultanan dalam satu kesatuan tempat. Menurutnya, hal tersebut justru
telah menghidupkan kembali suasana keraton didalam penataan museum.
Selain itu, tambah HAB Abdul Rachim,
makam raja dan keluarga yang termasuk satu kesatuan dengan Museum Mulawarman juga menjadi
'hidup' dengan adanya pemakaman AM Parikesit (ayahnda Sultan H Adji Mohd Salehoeddin II)
pada tahun 1981 sesuai tatacara pemakaman raja-raja Kutai, ditambah lagi dengan upacara
ziarah ke makam Aji Imbut (pendiri kota Tenggarong) yang selalu digelar pada setiap
peringatan hari jadi kota Tenggarong serta kegiatan sehari-hari para keluarga atau
masyarakat yang melakukan ziarah ke pemakaman tersebut.
"Kemudian didepan setinggil atau
singgasana juga mulai sering digunakan untuk pelaksanaan upacara adat Erau sejak tahun
1991 sebagaimana yang pernah dilakukan sebelumnya pada masa kesultanan. Hal ini mendorong
eksistensi museum untuk lebih menunjang pelestarian budaya," ujar HAB Abdul Rachim
yang bergelar H Aji Pangeran Ario Prodjo ini.
Ditambahkannya, dengan adanya
kegiatan-kegiatan tersebut telah mendorong peranan Museum Mulawarman sebagai Memorial
Museum. "Dengan perannya sebagai memorial museum, sudah sepantasnya jika benda-benda
pusaka peninggalan Kesultanan Kutai Kartanegara yang saat ini masih tersimpan di Museum
Nasional Jakarta untuk dikembalikan ke bumi Kutai Kartanegara," kata HAB Abd Rachim.
(win) |