
Photo: Yanda

Menyusuri sungai Tenggarong dengan menggunakan perahu motor yang memberikan keasyikan
tersendiri
Photo: Agri |
|
|
KutaiKartanegara.com 25/01/04 10:30 WITA
Sekelompok bocah satu per satu terjun bebas dari tepi salah satu jembatan yang membentang
diatas sungai Tenggarong. Tepi jembatan yang berada di ketinggian 6 meter dari atas
permukaan air sungai ini tak membuat nyali bocah-bocah ini ciut akan bahaya yang dapat
mengancam setiap saat, malah mereka berulang kali melakukan aksi terjun bebas dengan
berbagai macam gaya.
Wajah-wajah ceria terpancar dari
wajah bocah-bocah ini setelah tubuh mereka berhasil menghunjam permukaan air sungai dengan
deburan yang cukup keras, menyelam beberapa saat dan berenang ke tepian serta kembali
menuju jembatan untuk mengulang aksi serupa.

Dua orang bocah yang tampak asyik bermain perahu kecil buatan mereka sendiri
Photo: Yanda |
|
|
Tak jauh dari mereka, sekelompok
bocah lainnya tampak asyik bermain perahu kecil yang terbuat dari lembaran plywood dan
papan. Ada pula yang bermain-main dan berenang di sungai yang membelah 'Kota Raja'
Tenggarong ini, sementara ibu mereka tampak sibuk mencuci pakaian di jamban atau batang
kayu besar yang dirangkai dengan papan-papan yang mengapung di tepi sungai.
Semua itu hanyalah sebagian kecil
dari berbagai aktivitas kehidupan warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai
Tenggarong. Dengan menggunakan perahu motor menyusuri sungai Tenggarong, Anda akan
menyaksikan lebih banyak lagi sisi-sisi lain kehidupan keseharian sebagian masyarakat
Tenggarong, ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) yang kini terus bersolek
mempercantik diri dengan berbagai fasilitas modern untuk menjadi kota wisata utama di
Kalimantan Timur.

Sungai Tenggarong masih menjadi tempat bermain yang mengasyikkan bagi anak-anak
Photo: Agri
Dua orang anak kecil ketika sedang mandi
di belakang rumahnya
Photo: Agri
|
|
|
Walau kawasan sungai Tenggarong
terkesan kumuh dengan deretan rumah-rumah kayu milik warga bukanlah suatu kawasan wisata
yang patut dibangga-banggakan oleh Pemkab Kukar seperti halnya Planetarium Jagad Raya atau
pun Pulau Kumala, namun aktivitas keseharian warga yang tinggal di bantaran sungai ini
baik di pagi atau sore hari sebenarnya sangat menarik untuk diperhatikan.
Bagaimana tidak, sungai Tenggarong
yang warnanya cukup pekat dan telah tercemar dengan sampah dan limbah rumah tangga ini
tetap saja dimanfaatkan sebagian warga yang tinggal di sepanjang sungai tersebut untuk
memancing ikan, bermain, mandi, mencuci, membuang hajat atau bahkan sebagai bahan baku
untuk memasak setelah sebelumnya disaring.
Ketergantungan masyarakat terhadap
sungai ini tentunya merupakan salah satu warisan budaya masa lampau yang tak hanya dapat
dijumpai di Tenggarong saja, namun juga dapat ditemukan di kota-kota utama pulau
Kalimantan lainnya dan di wilayah pedalaman.
Dan kelak, tak menutup kemungkinan
pemukiman di tepi sungai ini akan menjadi kenangan semata bila Pemerintah Kabupaten Kutai
Kartanegara merelokasi pemukiman warga sepanjang sungai ini untuk pengembangan pariwisata
atau memperindah kota, disamping masyarakat mulai meninggalkan budaya kehidupan di tepi
sungai untuk bermukim di tempat yang lebih layak seiring dengan meningkatnya kesejahteraan
mereka. (win/nop/zej)

Salah satu pemandangan kehidupan masyarakat di
sepanjang sungai Tenggarong
Photo: Yanda

Cerianya anak-anak saat mandi di sungai Tenggarong
Photo: Yanda
|